Jusup Ginting Suka Soroti Produksi Sampah Medan Capai 2.000 Ton per Hari, Bank Sampah Jadi Solusi
MEDAN, Bhinnekanews – Persoalan sampah di Kota Medan masih menjadi tantangan serius. Produksi sampah yang terus meningkat dinilai sudah mulai melampaui kemampuan fasilitas penampungan yang ada, sehingga dibutuhkan solusi alternatif melalui pengelolaan berbasis masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD Kota Medan dari Fraksi PDI Perjuangan, Jusup Ginting Suka, SE, saat menggelar Sosialisasi Peraturan Daerah (Sosperda) Nomor 7 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Persampahan di Jalan Parang IV, Kelurahan Simpangkata, Kecamatan Medan Selayang, Minggu (14/3).
Dalam kegiatan tersebut, Jusup Ginting mengungkapkan bahwa volume sampah di Kota Medan saat ini diperkirakan mencapai sekitar 2.000 ton per hari. Sementara itu, kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun hanya mampu menampung sekitar 1.700 ton per hari.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa Kota Medan masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Jika tidak ditangani dengan baik, penumpukan sampah bisa berdampak pada kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Jusup, pengangkutan sampah secara rutin menjadi hal yang sangat penting agar tidak terjadi penumpukan di lingkungan permukiman warga.
“Jangan sampai sampah diangkut satu minggu bahkan satu bulan sekali. Jika dibiarkan menumpuk, tentu akan menimbulkan bau tidak sedap dan berpotensi menimbulkan penyakit,” katanya.
Ia juga meminta kepala lingkungan dan mandor kebersihan untuk aktif berkoordinasi dalam mengawasi pengangkutan sampah di wilayah masing-masing dengan pengawasan dari lurah dan camat.
Sementara itu, Staf Ahli Fraksi PDI Perjuangan, Waldemar Sihombing, menyoroti masih terbatasnya sarana pendukung pengelolaan sampah di sejumlah wilayah, seperti tong sampah dan armada pengangkut.
Menurutnya, upaya mengajak masyarakat untuk disiplin dalam membuang sampah harus diimbangi dengan penyediaan fasilitas yang memadai.
“Jangan sampai masyarakat diminta tidak membuang sampah sembarangan, tetapi fasilitas pendukung seperti tong sampah dan armada pengangkut masih minim,” ujarnya.
Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Medan, Indra Utama Pohan Simanjuntak, menjelaskan bahwa produksi sampah rumah tangga dan industri di Kota Medan berkisar antara 1.200 hingga 1.500 ton per hari. Namun jumlah armada pengangkut yang tersedia saat ini masih terbatas.
Karena itu, pihaknya mendorong masyarakat untuk membentuk bank sampah sebagai salah satu solusi dalam mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.
“Melalui bank sampah, masyarakat bisa mengelola sampah secara produktif. Selain menjaga lingkungan tetap bersih, masyarakat juga dapat memperoleh manfaat ekonomi,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengelolaan bank sampah bahkan dapat terhubung dengan lembaga perbankan sehingga masyarakat bisa menabung dari hasil pengelolaan sampah.
Dalam sesi dialog, warga juga menyampaikan ketertarikan untuk membentuk bank sampah di lingkungan mereka. Salah seorang warga menyebutkan bahwa di kawasan perumahan mereka terdapat sekitar 250 kepala keluarga pelaku UMKM yang tertarik mengelola sampah, termasuk memanfaatkan limbah dari kegiatan usaha.
Menanggapi hal tersebut, Indra menyatakan pihaknya siap memfasilitasi pertemuan dengan para pelaku UMKM di Kelurahan Simpangkata untuk membahas rencana pembentukan bank sampah.
Perwakilan Kecamatan Medan Selayang, Rinaldi Syahputra, mengapresiasi kegiatan Sosperda tersebut karena dinilai dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah.
Sementara itu, Lurah Selayang, Esra Riana Tarigan, mengatakan bahwa di wilayahnya sebenarnya telah terdapat bank sampah. Namun pihak kelurahan tetap membuka peluang pembinaan bagi masyarakat yang ingin membentuk bank sampah baru.
Di akhir kegiatan, Jusup Ginting mengimbau masyarakat untuk terus menjaga kebersihan lingkungan, terutama pada musim hujan guna mencegah terjadinya banjir akibat saluran air yang tersumbat sampah.
